Dia bilang itu hanya sebuah pendopo
yang kusinggahi di sela-sela perjalananku
Tapi biarpun sebentar
Ia membuat hatiku selalu ingin menepi
di setiap kali aku melintasinya
Di mana aku harus segera pulang
harus selalu pulang
Meski hanya tempat singgah
Ia memberiku kenyamanan
Meluruskan beberapa simpul rumit pada titik jenuh
dan memberi keteduhan
Tapi sekarang aku jadi tahu
karena pertanyaanmu itu
Aku tak hendak mampir sekali lagi
Tak ingin kotori lantainya dengan debu-debu perjalananku
karena aku tak punya banyak waktu tersisa
untuk membersihkannya
welcome to my personal blog
Selalu ingin punya beranda, tempat untuk dicoreng moreng, dicabik-cabik.. dan inilah beranda saya, tempat saya menuliskan semua puisi, narasi, dan segala bentuk isi hati.. silahkan ditelusuri, dipuji, dikritik atau dicaci maki hingga puas.. salam..
Thursday, August 18, 2011
Thursday, April 28, 2011
Biarkanlah Mimpi-Mimpi itu terbang Tanpa Aku
Mimpi-mimpi indah itu lambungkanlah hingga tinggi
Berilah sayapnya lengkap di kanan kiri
Ia kan temukan tempatnya di langit
Bukan aku yang temanimu kesana
Kita bukan kejadian yang semestinya
Diantara kita hanyalah lumut pada retakan
Yang tumbuh subur oleh air muka bahagia
Tanpa jabat tangan dan salam perkenalan
Bukankah hatimu percaya?
Manusia dipasangkan oleh perjanjian langit
Dan mungkin itu bukan namaku yang tertera
-bukan seperti ini kita semestinya bersua-
Yakinkanlah hati kita berdua
Bahwa masing-masing diantara kita pasti akan bahagia
(Paradigma Baru_Page 65)
Berilah sayapnya lengkap di kanan kiri
Ia kan temukan tempatnya di langit
Bukan aku yang temanimu kesana
Kita bukan kejadian yang semestinya
Diantara kita hanyalah lumut pada retakan
Yang tumbuh subur oleh air muka bahagia
Tanpa jabat tangan dan salam perkenalan
Bukankah hatimu percaya?
Manusia dipasangkan oleh perjanjian langit
Dan mungkin itu bukan namaku yang tertera
-bukan seperti ini kita semestinya bersua-
Yakinkanlah hati kita berdua
Bahwa masing-masing diantara kita pasti akan bahagia
(Paradigma Baru_Page 65)
Tuesday, April 26, 2011
in Mathematics
Kita pelajari hidup semudah menghitung secara matematika
Mari jabarkan kaidah-kaidahnya yang sempurna
Matematika adalah keadilan
Tak pernah tinggalkan tanda 'sama dengan'
Yang membagi ruas-ruasnya secara seimbang
Dimana memberi akan selalu menerima
Dan berbagi akan membesarkan keutamaan
Nilai-nilainya tersembunyi secara acak dan berwibawa
Kemudian ketika mencinta adalah pengoperasian bilangan bulat,
Sesuatu yang sendiri akan digenapkan oleh kesendirian yang lain
Laku yang kurang akan positif dengan kebersamaan
Dan pemangkatan lahir dari peleburan sari pati
Bentuk cinta yang indah dan irrasional
Hidup dimanakan maknanya?
Lalu kita ingat tentang Cartecius
Semua berawal dari ketiadaan dan ruangnya tanpa batas
Pemaknaan yang suci atas nama penciptaan
Meski jalan terkadang temui banyak persimpangan
Dan parabola-parabola akan terus menikung untuk jagakan
Hidup supaya tetap manusiawi
(Paradigma Baru-Page 64)
Mari jabarkan kaidah-kaidahnya yang sempurna
Matematika adalah keadilan
Tak pernah tinggalkan tanda 'sama dengan'
Yang membagi ruas-ruasnya secara seimbang
Dimana memberi akan selalu menerima
Dan berbagi akan membesarkan keutamaan
Nilai-nilainya tersembunyi secara acak dan berwibawa
Kemudian ketika mencinta adalah pengoperasian bilangan bulat,
Sesuatu yang sendiri akan digenapkan oleh kesendirian yang lain
Laku yang kurang akan positif dengan kebersamaan
Dan pemangkatan lahir dari peleburan sari pati
Bentuk cinta yang indah dan irrasional
Hidup dimanakan maknanya?
Lalu kita ingat tentang Cartecius
Semua berawal dari ketiadaan dan ruangnya tanpa batas
Pemaknaan yang suci atas nama penciptaan
Meski jalan terkadang temui banyak persimpangan
Dan parabola-parabola akan terus menikung untuk jagakan
Hidup supaya tetap manusiawi
(Paradigma Baru-Page 64)
Saturday, April 23, 2011
Lelaki Jingga
Lelaki dicipta selembut jiwanya
Dan senyumnya yang lulus dari prasangka
Laku alun arjuna penuh pesona
Lelaki ini milik siapa?
Ia hadir dalam batas malam
Sebentar lagi subuh entaskan mimpi
Berganti kenyataan dan wajah yang tak lagi berpapasan
Seperti saat kutatap mata itu
Kutemukan pahit manisnya cecap ciuman
Manusia hanya bisa menebak, tapi bukannya meramal nasib
Tuhan jadikan sesuatu dengan tujuan
Selagi yang nyata belum tersampaikan
Dalam otakku untuk tuntaskan pengertian
Halalkah menikmati kemesraan yang datang?
Inikah kenyataan yang bingung
Menetapkan beberapa hal mulai limbung
Lelaki dipersuakan sejingga dia
Bolehkah aku mencinta?
(Paradigma Baru-Page 63)
Dan senyumnya yang lulus dari prasangka
Laku alun arjuna penuh pesona
Lelaki ini milik siapa?
Ia hadir dalam batas malam
Sebentar lagi subuh entaskan mimpi
Berganti kenyataan dan wajah yang tak lagi berpapasan
Seperti saat kutatap mata itu
Kutemukan pahit manisnya cecap ciuman
Manusia hanya bisa menebak, tapi bukannya meramal nasib
Tuhan jadikan sesuatu dengan tujuan
Selagi yang nyata belum tersampaikan
Dalam otakku untuk tuntaskan pengertian
Halalkah menikmati kemesraan yang datang?
Inikah kenyataan yang bingung
Menetapkan beberapa hal mulai limbung
Lelaki dipersuakan sejingga dia
Bolehkah aku mencinta?
(Paradigma Baru-Page 63)
Code dan Puisi
Kau sandarkan aku dipanjangnya code
Biarkanku tenggelam dalam pesona
Kekaguman yang mengalir
Aku cinta kau
Seperti code yang mencintai air
Memberi riak dalam hidup yang hitam
Pun begitu bacin ia pelihara ikan-ikan yang malang
Suguhkan kampung halaman yang nyaman
Untuk berbagi kasih
Siangku yang terik berjabat dengan malammu yang dingin
Ditautkan saat magrib dan mentari tenggelam
Setengah tujuh malam
Kesempurnaan itu ikatkan juga perasaan yang gemuruh
Hingga puisi ini kemudian lahir
Setelah seratus puisi sebelumnya
Lahir semenjak kamu ada
(Paradigma Baru-Page 57)
Biarkanku tenggelam dalam pesona
Kekaguman yang mengalir
Aku cinta kau
Seperti code yang mencintai air
Memberi riak dalam hidup yang hitam
Pun begitu bacin ia pelihara ikan-ikan yang malang
Suguhkan kampung halaman yang nyaman
Untuk berbagi kasih
Siangku yang terik berjabat dengan malammu yang dingin
Ditautkan saat magrib dan mentari tenggelam
Setengah tujuh malam
Kesempurnaan itu ikatkan juga perasaan yang gemuruh
Hingga puisi ini kemudian lahir
Setelah seratus puisi sebelumnya
Lahir semenjak kamu ada
(Paradigma Baru-Page 57)
Subscribe to:
Posts (Atom)